hidup untuk kemajuan pendidikan

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Twitter

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Definisi Sosiologi
Secara etimologis sosiologi berasal dari kata “socius” dan “logos”. Socius artinya “berkawan” dan logos artinya “ ilmu”. Jadi sosiologi berarti ilmu berkawan atau berteman.
Sedangkan definisi Sosiologi berdasarkan para pakar adalah sebagai berikut:
a. sosiologi adalah studi tentang hubungan antara manusia (human relationship). (Alvin Bertrand)
b. sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material. (Mayor Polak)
c. sosiologi adalah ilmu masyarakat umum. (P.J. Bouwman)
d. sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi).
Manusia sebagai makhluk sosial, dalam memenuhi kebutuhannya yang sangat kompleks, membutuhkan orang lain. Ia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, karena setiap manusia memiliiki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dalam rangka memenuhi kebutuhan itulah manusia memerlukan pergaulan hidup dengan manusia lain.
Salah satu ilmu yang banyak membicarakan tentang tata cara pergaulan atau tingkah laku manusia dalam kelompok sosialnya adalah sosiologi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Barisan
2.1.1 Barisan Aritmatika
Kita pernah betemu dengan istilah barisan pada saat kita belajar matematika sebelumnya. Sebagai contoh, bilangan-bilangan 5, 7, 9, 11, 13, 15 mendefinisikan suatu barisan. Suatu barisan dikatakan terhingga karena ada bilangan pertama dan bilangan terakhir. Kita akan lebih focus pada pembicaraan barisan tak hingga yang selanjutnya kita katakana sebagai “barisan” saja. Barisan adalah suatu kumpulan suku-suku dalam urutan tertentu. Secara formal, suatu barisan dapat didefinisikan sebagai suatu fungsi yang mempunyaidaerah asal bilangan bulat positif.
Bilangan-bilangan didalam daerah hasil suatu barisan, yang disebut suku barisan, kita batasi untuk bilangan-bilangan real. Perhatikan contoh barisan berikut ini.
(1) 1,2,3,4,5,6,….
(2) 0,5,10,15,20,25,….
(3) 2,6,10,14,18,22,….
(4) 1,11,111,1111,11111,….

"Ketidakmerataan Pendidikan Sudah Cukup Sering Dibicarakan"
(Solusinya? hm... tell me how sir?)

Dari Dalila Sadida - "saya jadi ingat saat sedang kuliah, hal macam ini (ketidakmerataan pendidikan) sudah cukup sering dibicarakan pak, namun rasanya masih "sebatas" dibicarakan, action nya? hm... tell me how sir? while I'm "just" an ordinary uni student. thank you in advance :)"


Kalau melihat keadaan, jelas ICT bukan solusinya.
http://teknologipendidikan.com/rasiokomputer.html

Masalah kita adalah, kita selalu mencari solusi ajaib, dan suka lewat yang betul adalah solusi (Can't see the forest because of the trees).

Kalau saya ingat pada tahun 1998-2000 waktu saya bekerja di Kemendiknas, saya masih ingat Pak Arief Rachman menyampaikan kepentingan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Pembelajaran Kontekstual (PAKEM) kepada Kepala Sekolah dengan pasion dan semangat yang sebelumnya saya belum pernah menyaksikan. Hebat!

Tetapi, kayaknya kita sudah lupa kata-kata beliau, dan sampai sekarang MBS dan Pembelajaran Kontekstual sudah ditinggalkan sebelum dilaksanakan, dan kita tidak mempunyai fondasi pendidikan.

MBS, PAKEM, dan TTG (TTG sudah ada di semua sekolah sekarang) masih adalah kuncinya untuk melaksanakan pendidikan yang bermutu, maupun 'meratakan pendidikan' karena berbasis kemampuan dan kreativitas guru, dan sampai sekarang otak guru masih adalah teknologi yang paling mampu melaksanakan pembelajaran yang efektif dan bermutu di Indonesia, maupun di luar negeri. Kita hanya perlu mengaktifkan otaknya :-)
Maupun siswa-siswi kita: http://teknologipendidikan.com/mengaktifkansiswa.html dan
http://teknologipendidikan.com/21stcenturylearning.html

Sejak akhirnya tahun 80an (di luar negeri) dan pada awal tahun 2000 (di sini), Audio-Visual Aids (alat bantu pembelajaran) dan Ilmu TP sudah mulai digeserkan sampai ada manusia yang kelihatannya percaya bahwa teknologi dapat mengajar lebih efektif daripada manusia.

Di mana kita ingin membentukkan perilaku orang dan menyampaikan informasi tertentu pembelajaran berbasis-teknologi, seperti e-learning mempunyai peran, misalnya karyawan kantor, pilot, tentara, perawat, dll, di mana perilakunya adalah berbasis kebijakan dan seragam.

Tetapi di mana tujuan kita adalah mengembankan seorang sesuai kemampuan beliau secara individu, yang kreatif dan inovatif dan dapat mandiri maupun menghadapi tantangan baru, tidak ada pengganti untuk manusia (guru) dengan Appropriate Technology (TTG).

Menurut saya, cara meratakan pendidikan di Indonesia adalah meratakan SDMnya. Bukan oleh pelatihan dan penataran seperti zaman D4, tetapi oleh meningkatkan akuntabilitas guru untuk meningkatkan kemampuan sendiri (seperti di luar negeri) oleh informasi yang tepat yang dapat lewat media mana saja, tetapi jangan menggunakan e-learning karena yang kita paling tidak perlu adalah jutaan guru seperti robot :-)

Ini hanya dasarnya, ada banyak informasi lain di FB maupun website saya. Mulai di:
http://teknologipendidikan.com/kebijakan-ict.html